Jumat, 27 Juli 2007

Sejarah Pemerintahan Kabupaten Karawang

Terbentuknya pemerintahan di Kabupaten Karawang dapat ditentukan terajadi pada abad ke-17 ketika kerajaan Mataram diperintahkan oleh Sultan Agung, yakni ketika Sultan Agung mengankat Adipati Kertabumi III menjadi wedana setelah sukses mengusir pasukan Banten di wilayah Karawang. Pada masa itu diangkat dua orang wedana yaitu Singaperbangsa dan Aria Wirasaba diangkat sebagai wedana di Waringinpitu, tampaknya dilatar belakangi oleh hasil ekspedisi yang pernah dilakukan pada tahun 1630, setahun setelah kegagalan pasukan Mataram menyerang VOC di Batavia.



Pada waktu itu Aria Wirasaba mendapat perintah dari Sultan Agung untuk mengusir pasukan Banten yang bercokol di sekitar sungai Citarum dalam wilayah Karawang, sedangkan Karawang merupakan koloni Mataram setelah kerajaan Sumedanglarang mengaku takluk kepada Mataram pada tahun 1595.


Atas jasa Kertabumi III, ia lalu diangkat menjadi wedana diwilayah Karawang dan berkedudukan di Udug-udug. Kertabumi III belum sempat menikmati jabatannya sebab sesudah melapor kepada Sultan, ia meninggal dunia di Galuh. Sebagai penggantinya, Sultan lalu menunjuk putra Kertabumi III yang juga bernama Singaperbangsa sebagai wedana di Karawang yang berkedudukan di Bunut dengan gelar Adipati Kertabumi IV.


Bersamaan dengan pengangkatan Singaperbangsa, juga diangkat wedana lain untuk wilayah Karawang yaitu Aria Wirasaba. Pengankatan Keduanya dilaksanakan sewaktu Ranggagede diangkat oleh Sultan sebagai wedana daerah priangan untuk kedua kalinya. Pengankatan kedua wedana ini adalah atas perintah Sultan Agung yang dikukuhkan lewat sebuah piagam pengankatan yang kemudian diberi nama "Pelat Kuning Sapi Besar". Dengan adanya piagam ini berarti Karawang dibagi dua oleh Sultan, dimana maksudnya adalah selain sebagai penjagaan wilayah, juga merupakan bagian tugas keduanya untuk memperhatikan aktivitas yang terjadi di daerah perbatasan, utamanya kegiatan VOC di Batavia.


Tahun 1645 Sultan Agung wafat, dan tahta dilanjutkan oleh putranya Amangkurat I (1645-1677). Tahun 1677 Amangkurat I jatuh sakit dan meninggal dunia di Tegalarum (Tegalwangi) dalam pelariannya ke Batavia dimana sebelumnya ia sempat mengangkat anaknya Pangeran Adipati Anom sebagai raja Mataram dengan gelar Amangkurat II.


Tahun 1677 Singaperbangsa yang bergelar Adipati Kertabumi IV tewas (Bupati Karawang ke-1, 1633-1677) di daerah Ranggon dan dimakamkan di desa Ciparege kecamatan Cilamaya. Belanda kemudian mengangkat Bupati pengganti yaitu Raden Anom Wirasuta atau Tumenggung Panatayuda I sebagai Bupati ke-2 pada tahun 1677-1721. Tumenggung Panatayuda I kemudian memindahkan pusat kewedanaan ke Pangkalan, daerah Loji. Tahun 1721, Panatayuda I digantikan oleh Bupati ke-3 bernama Raden Jayanagara bergelar Panatayuda II memerintah dari tahun 1721-1731 yang kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke Waru Pangkalan. Tahun 1732 pemerintah dipimpin oleh Raden Martanagara dengan gelar Panatayuda III sebagai Bupati ke-4, dengan masa pemerintahan dari tahun 1732-1786. Pemerintah dipindahkan kembali dari Waru Pangkalan ke Bunut Kertayasa Karawang, pada masa ini Bupati dijabat oleh Raden Muhammad Soleh atau Raden Singanegara atau Raden Muhammad Zaenal Abidin dengan gelar Panatayuda IV atau lebih dikenal dengan Dalem Balon sebagai Bupati ke-5.


Bupati ke-6 dijabat oleh Raden Adipati Aria Singasari yang merupakan keponakan Dalem Balon dari tahun 1786-1809. Singasari dipindahkan menjadi Bupati Brebes pada tahun 1809. Bupati ke-7 dijabat oleh Raden Aria Sastradipura yang menjabat sebagai pejabat sementara Bupati selama 2 tahun dari 1809-1811. Tahun 1811-1813 Bupati Karawang dijabat oleh Raden Suryalaga sebagai Bupati ke-8. Bupati ke-9 dijabat oleh Raden Aria Sastradipura. Bupati ke-10 dijabat oleh Raden Adipati Suryanata memerintah dari tahun 1821-1829, ia memindahkan pusat pemerintahan dari Karawang ke Wanayasa. Bupati ke-11 dijabat oleh R. Aria Suryawinata dari tahun 1829-1849 dan berkedudukan di Wanayasa sampai tahun 1830.


Dalam tahun 1830 ini pusat pemerintahan dipindahkannya ke Sindangkasih yang kemudian diberi nama Purwakarta. Tahun 1849 Aria Suriawinata dipindah tugaskan menjadi Bupati di Bogor. Bupati ke-12 dijabat oleh Raden Sastranegara atau Muhammad Enoh, menjabat dari tahun 1849-1854. Bupati ke-13 dijabat oleh Raden Adipati Sumadipura bergelar Raden Tumenggung Aria Sastradiningrat I, beliau menjabat dari tahun 1854-1863. Bupati ke-14 dijabat oleh R. Adikusumah bergelar R. Adipati Sastradiningrat II, menjabat dari tahun 1863-1886. Bupati ke-15 dijabat oleh R. Suryakusuma bergelar R. A.A. Sastradiningrat III, beliau menjabat selama 25 tahun, dari tahun 1886-1911. Bupati ke-16 R. Tumenggung Aria Gandanagara, menjabat menjadi Bupati Karawang dari tahun 1911-1925. Bupati ke-17 bernama R. Adipati Aria Suryamiharja menjabat selama 17 tahun, dari tahun 1925-1942. Pusat Pemerintahan berada di Purwakarta.


Tahun 1945 dalam suasana revolusi kemerdekaan, pusat pemerintahan dipindahkan ke Subang dengan sebutan pemerintahan peralihan yaitu dari sistem pemerintahan militer Jepang ke pemerintahan Indonesia. Bupati ke-19 adalah R. Juarsa dari tahun 1945-1948. Penempatan Subang sebagai pusat pemerintahan Kabupaten berlangsung dalam dua periode Bupati yaitu sampai akhir masa jabatan Bupati ke-20 dijabat oleh R. Ateng Surapraja dari tahun 1948-1949.


Dalam tahun 1949 terjadi pergantian Bupati dan kota Karawang kembali menjadi pusat pemerintahan dibawah Bupati ke-21 yaitu R. Hasan Surya Saca Kusuma yang menjabat dari tahun 1949-1950. Pada masa ini diberlakukan undang-undang No. 14 Tahun 1950 yang memekarkan Kabupaten Karawang menjadi dua Kabupaten yaitu Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta. Kabupaten Purwakarta berpusat di Subang.


Bupati ke-22 adalah R. Rubaya yang menjabat selama setahun dari 1950-1951. Bupati ke-23 adalah Muhammad Tohir Mangkudidjojo dengan masa jabatan sembilan tahun, dari tahun 1951-1960. Bupati ke-24 dijabat dari kalangan militer sesuai dengan semangat Dwi Fungsi ABRI yaitu Kol. Inf. Husni Hamid yang menjabat selama 11 tahun, dari tahun 1960-1971. Bupati ke-25 adalah Kol. Inf. Setia Syamsi yang menjabat selama 5 tahun (1971-1976). Bupati ke-26 adalah Kol. Inf. Tata Suanta Hadisaputra dari tahun 1976-1981. Bupati ke-27 dijabat oleh Kol. CPL H. Opon Sopanji menjabat dari tahun 1981-1986. Bupati ke-28 adalah Kol. Inf. H. Sumarno Suradi memerintah selama dua periode masing masing 1986-1991 dan 1991-1996.


Bupati ke.29 adalah Kol. Inf. Drs. H. Dadang S. Mukhtar yang menjabat dari tahun 1996-2000. Bupati ke-30 dijabat sementara oleh R. H. Daud Priyatna pada tahun 2000. Bupati ke-31 adalah H. Achmad Dadang yang terpilih melalui pemilihan Bupati Karawang periode 2000-2005.



3 komentar:

  1. Terima kasih atas tulisan sejarahnya, saya sekarang jadi tahu asal-usul Kabupaten Karawang. Thanx

    BalasHapus
  2. terima kasih, sangat membantu.

    BalasHapus
  3. Mas. sebutkan sumbernya ! dari mana hasil tulisan tersebut. Supaya dapat digunakan oleh banyak orang. ma kasih

    BalasHapus