Rabu, 16 Mei 2007

Era Wayang, Orde Kethoprak dan Dunia Togog

Marilah mengaku saja bahwa pusat perhatian kita adalah Raja-Raja.  Marilah
tak usah menutup-nutupi bahwa kecendrungan utama historis kita adalah memajang
Raja-Raja di layar psikologi kebudayaan kita; baik terpatri di benak kita
masing-masing maupun yang terungkap di panggung-panggung sosial kita.

   Masyarakat menikmati kenduri dan tumpengan nasional dengan menu isu tentang
Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran atau calo-calonya; media massa menjadi
pemrakarsa dan panitia kenduri nasional ini.  Kepanitiaan yang berjargot "man
makes news" ini menerjemahkan "man" menjadi terutama Raja-Raja dan
Pangeran-Pangeran, bukan manusia-manusia. 



  Koran-koran selalu sangat sibuk mengajak masyarakat bergunjing tentang
calon-calon tokoh utama di setiap level, seolah-olah ketua berganti makna,
segala sesuatunya juga akan berubah secara mendasar.  Seakan-akan ada
kemungkinan yang sedemikian pentingnya yang ditawarkan kepada masyarakat oleh
penggantian "raja".

   Bagi khalayak ramai, pengunjingan tentang calon-calon "raja", merupakan
peristiwa psikologis, dan itu hampir tidak ada kaitannya dengan apa yang
sesungguhnya dimaknakan oleh kata "politik" dan "ekonomi" pada aslinya.

   Pada sisi yang paling kelam, ini sesungguhnya adalah kanibalisme psikologis;
kita berkeliling di "meja makan" kebudayaan yang padanya tersuguhkan segala
bahan pergunjingan tentang apapun saja yang menyangkut Raja-Raja dan
Pangeran-Pangeran.

  Kita terkadang muak tetapi tetap mengenyamnya bersama-sama, beramai-ramai. 
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, penderitaan orang lain sering kali
merupakan snack yang enak sebagai nyamikan di beranda rumah, di gardu atau
pojok pasar dan warung-warung kopi.

   Bagi industri informasi, segala kemungkinan "isi meja makan kebudayaan" itu
senantiasa dieksplor sedemikian rupa sebagai komoditi yang dibilang utama.

   Sesungguhnya, terhadap hampir seluruh peristiwa elite di panggung negeri
ini, kita tidaklah terutama sedang mempergulatkan kreativitas kebangsaan dan
sejarah secara mendasar, melainkan sedang menikmati tontonan KETHOPRAK dan
WAYANG.

   Yang saya maksud dengan dunia wayang dalam konteks ini bukan terutama pada
fungsi dalang atas wayang, yang dalam bahasa politik sehari-hari kita sebut
"rekayasa", mekanisme "top-down" dan lain sebagainya.  Melainkan bahwa dalam
kosmos seni budaya wayang, tokohnya bukanlah manusia, sementara rakyat selalu
anonim dan dianggap tidak memiliki kehendak atau (apalagi) kedaulatan.

   Wayang adalah kisah mengasyikan mengenai Raja-Raja, Kesatria-Kesatria, dan
Dewa-Dewi.  Pelaku terbanyak dalam wayang adalah prajurit.  Namun mereka bukan
saya bukan tokoh; mereka bahkan bukan manusia, mereka adalah prajurit.  Ada
skala dan konsentrasi nilai yang amat berbeda antara manusia dan prajurit.

   Jika Anda adalah pelaku kisah wayang, sesekali mungkin Anda dan saya
memiliki sebutan: umpamanya TOGOG.  Kakak sulung Kiai Semar dan Bathara Guru
ini memiliki peran sejarah yang unik dan mengesalkan, persis seperti Anda. 
Yakni khususnya mengikuti perjalanan Tuan-tuan yang memiliki kecendrungan untuk
JAHAT dan CURANG.  Pekerjaan utama Togog adalah mengingatkan Tuannya tentang
mana yang benar dan mana yang salah.

   Togog selalu melontarkan kritik, namun hanya ditampung tanpa pernah
dipercaya dan dituruti.  Atau, Togog adalah pemeran yang selalu tidak pernah
dianggap penting dan tidak pernah dipatuhi anjuran-anjurannya, namun ia
terus-menerus mengungkapkan kritik-keritik.

   Togog adalah satu-satunya nama Anda, meskipun jumlah Anda 240 juta. 
Kapanpun saja Anda bernama Togog, di zaman apapun Anda bernama Togog, pada Orde
paling kuno hingga Orde post-mo Anda bernama Togog.

   Raja Anda berganti-ganti, dari Prabu Rama dalam Ramayana hingga Puntadewa
dalam Mahabharata sampai Parikesit di kurun pasca Bharatayuda, dan Anda tetap
bernama Togog.

   Bapak-Ibu Anda bernama Togog, keponakan dan anak turun Anda bernama Togog. 
Pekerjaan utama Anda adalah menerima apapun saja kehendak dan keputusan setiap
Raja yang menguasai Anda, sambil melontarkan kritik tanpa pernah
sungguh-sungguh diperhatikan.  Dan hobi permanen Anda dari zaman ke zaman
adalah menikmati perjalanan Raja-Raja, sampai hari ini, saat Anda
membolak-balik tulisan ini.

   Kalau dalam dunia kethoprak, nama kita adalah Bolo Dhupakan, pemeran-pemeran
figuran yang jumlahnya lebih banyak dari pemeran utama, namun tugas utamanya
adalah didhupak-dhupak alias ditendang-tendang.  Yang ditendang-tendang
terkadang dahi dan punggung kita, di saat lain hak-hak asasi kita, atau yang
rutin adalah gagasan-gagasan kita mengenai bagaimana lakon kethoprak itu
mestinya berlangsung.

   Pada saat yang sama sesungguhnya kita juga sindhen-sindhen pelaku keindahan
yang mendendangkan legenda dan segala jenis nyanyian tentang Raja-Raja dan
Pangeran-Pangeran: peran berdendang barangkali bukanlah tergolong nasib yang
terlalu buruk.

   Tetapi yang harus dengan seksama kita catat adalah betapa tradisi pemusatan
perhatian terhadap Raja-Raja dan Pangeran-Pangeran memiliki akibat sejarah yang
tidak sederhana.  Kalau dalam kesempatan bincang-bincang serius Anda tiba-tiba
pada tema ? umpamanya ? ketidaksiapan masyarakat untuk mengerjakan demokrasi
dan membangun komunitas egalitarian, proses kualifikasi kepemimpinan yang
selalu kembali terjebak pada patrimonialisme dan khususnya budaya monarki,
mekanisme regenerasi yang terantuk-antuk oleh bebatuan feodalisme, dan lain
sebagainya ? percayalah itu karena kita memang masih bersemayam di ERA WAYANG,
ORDE KETHOPRAK dan nama Anda adalah TOGOG.

   Kita membutuhkan kesempatan khusus untuk menguraikan itu.  Namun, yang
jelas, ke-TOGOG-an adalah posisi dan situasi floating-mass yang
mengaktualisasikan dirinya melalui bentuk-bentuk sub-ordinasi kultural yang
cengeng dan tak berdaya; meskipun itu bisa juga berarti ketabahan, ketahanan
dan kesabaran.

   Berabad-abad Togog bertepuk tangan menyanyikan lagu puja-puji bagi Raja-Raja
dan Pangeran-Pangeran, yang berkuasa sehingga kaya, yang kaya sehingga
berkuasa.
  Oleh: Emha Ainun Najib. 1995

Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

1 komentar:

  1. He..he Mas M Khairul Muslim juga ber empati terhadap saya.....salam kenal

    BalasHapus